Unordered List

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Monday, March 18, 2019

H. Hendra Hidayat Buka Sidang MPL PGIW DKI Jakarta



KAIROSPOS.COM, Jakarta - H. Hendra Hidayat Kepala Biro Bimental Setda DKI Jakarta  mewakili  Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berhalangan hadir  membuka Sidang MPL PGIW DKI Jakarta Senin (19/03/2019) di Gereja Batak Karo Protestan (GBKP) Cempaka Baru Jakarta Pusat.

Sidang Majelis Pekerja Lengkap (MPL) Persekutuan Gereja-Gereja Di Indonesia Wilayah DKI Jakarta yang akan berlangsung 19-21 Maret di Hotel Grand Prioritas, Cisarua Bogor. Pembukaan acara didahului ibadah pembukaan yang dilayani Moderamen GBKP Pdt Agustinus Purba. Hendra Hidayat memulai sambutannya dengan membacakan sambutan resmi dari Anies Baswedan. Dalam sambutannya, Gubernur DKI menyampaikan bahwa penduduk DKI  yang majemuk juga merupakan miniatur Indonesia dan menjadi melting pot (red melebur menjadi satu/bhineka tungal ika) yang bermacam-macam suku namun hidup rukun.

Kemajukan adalah anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang harus disyukuri. Kepribadian dalam nilai agama, terutama akhlak dan budi pekerti harus ditingkatkan. Dalam rangka itu Sidang MPL PGI kita harapkan mampu merumuskan nilai-nilai Kristen dalam bingkai umat kristiani di DKI Jakarta.
Hendra menyampaikan bahwa Gubernur DKI sudah memanggil dirinya menanyakan terkait tentang GBKP Pasar Minggu dan sudah melakukan pendekatan warga sekitar. “Mari doakan semoga GBKP Pasar Minggu bisa lancar perizinan dalam waktu dekat,” terangnya. Puncak acara yang ditunggu dimulai dengan pukulan gong Hendra Hidayat tanda dimulainya  Sidang MPL PGIW DKI Jakarta.  


Peserta yang hadir cukup banyak diperkirakan 350 orang peserta. Para peserta adalah perwakilan dari gereja-gereja anggota PGIW DKI Jakarta dengan 80 peserta dan mitra PGIW DKI Jakarta. Ketua Panitia Brigjend dr Alexander Ginting, SpP dalam sambutannya menyatakan bahwa acara ini adalah satu batu loncatan GBKP, bahwa GBKP tidak meninggalkan gerakan oikumene dalam lingkup PGIW DKi Jakarta. “Kita terus mendukung gerakan oikumenis gereja, karena GBKP sebagai tuan dan nyonya rumah Sidang MPL,” terangnya.

Sidang MPL PGIW DKI Jakarta mengambil tema bersama PGI lima tahunan yakni “Tuhan Mengangkat Kita Dari Samudera Raya.” (Mazmur 71.20B). Ketua Umum PGIW DKI Jakarta Pdt Manuel Raintung menyatakan bahwa Sidang MPL tujuannya mengevaluasi kehadiran anggota PGIW DKI Jakarta. “Kami sebagai gereja-gereja di Jakarta selalu menggumuli keadaan bangsa. Ketika Anies Baswedan terpilih menjadi kepala daerah kami sepakat mendukung. Sesuai dengan motto maju kotanya bahagia warganya,” ucap Manuel Raintung.
 
Manuel Raintung menyinggung dan meminta perhatian dari pemerintah DKI Jakarta terkait keberadaan GBKP Pasar Minggu, yang  keberadaannya sudah lama dan memiliki gedung gereja sendiri. “Bukan karena GBKP tuan rumah maka kami suarakan, tetapi ini sudah disuarakan di FKUB DKI Jakarta. Diharapkan diberi kemudahan,” ungkapnya. Disampaikan juga, ada 80 peserta Sidang besok di Puncak, dengan mitra-mitranya.



Mengenal Simon Peters Manik, SE., MH., Caleg DPRD DKI Dapil 1 Jakarta Pusat dari Parta Nasdem, No. Urut : 7





KAIROSPOS.COM, -  Bertemu dengan Simon Peter Manik, SE. MH. Sepertinya tidak akan kehabisan bahan cerita, ada saja pengalaman beliau yang menarik untuk di simak.  Selain profesi utama sebagai konsultan pajak, ia juga terikat sebagai pengajar Mata Kuliah perpajakan di beberapa Perguruan Tinggi, Jakarta.  “Secara prinsip saya sebagai seorang professional, dan malah sempat kurang simpati terhadap dengan apa yang namanya politisi,”

Riuhnya media-media nasional memberitakan tentang korupsi, mulai dari tertangkapnya pejabat yang notebene adalah ‘petugas partai’ hingga kasus-kasus suap membuat Simon Peters Manik urung minat ke arena politik sebagai politisi. Rasa penasarannya untuk belajar politik kian menguat sampai pada akhirnya di tahun 2018 mengambil keputusan untuk mencoba masuk ke gelanggang politik melalui partai Nasdem. Sadar akan kemampuan berpolitiknya belum mumpuni, “Saya memilih untuk mencoba berkiprah di DPRD DKI Jakarta, tidak langsung mematok harus ke Senayan,” ujar pria yang sehari-harinya ini berurusan dengan pengusaha-pengusaha yang memintanya sebagai konsultan pajak, ditambah karena latar belakangnya di bidang hukum bisnis. Dengan kata lain,  meski memiliki kemampuan secara intelektual, tapi tidak diimbangi dengan kemampuan keuangan, maka akan sulit untuk terpilih.

Pilihannya terpanggil untuk membenahi ibukota Jakarta didasari hasil pengamatan yang dilakukan bertahun-tahun yang tidak sebanding antara anggaran dengan pengembangan Ibukota Jakarta, yang kebetulang bertempat tinggal di Jakarta Pusat. Diakuinya, “Jakarta punya banyak masalah. Kalau saya terpilih jadi anggota DPRD DKI Jakarta periode 2019-2024 yang akan menjadi prioritas adalah Kesehatan dan Pendidikan.” Kenapa Kesehatan dan Pendidikan, menurut beliau dengan kita sehat, kita bisa berbuat apa saja (sekolah ,kerja,dll) dan dengan pendidikan kita bisa jadi profesi apa saja. Menurutnya, maksimalisasi program BPJS memang dirasakan dengan baik oleh sebagaian besar penduduk Jakarta, bahkan ada yang tidak pernah berobat ke Ke Rumah Sakit, tetapi sekarang terkena flu dan batuk sedikit saja, sudah pergi berobat RS. “Pasien pengguna BPJS semakin banyak, mulai dari ibu-ibu… emak-emak sampai tetangganya yang pengangguran pun ikut-ikutan antre di rumah sakit untuk berobat walapun sebenarnya penyakitnya sangat ringan.”
Simon Peter Manik yang kini maju sebagai calon legislatif dari Partai Nasdem untuk DPRD DKI Jakarta Nomor Urut  : 7 (tujuh) dengan Dapil I Jakarta Pusat meliputi ( Tanah Abang, Sawah Besar, Gambir, Menteng, Senen, Johar Baru, Kemayoran dan Cempaka Putih) membangun optimisme bila terpilih nanti akan perjuangakan kenaikan anggaran di pencegahan. “Karena pencegahan lebih baik daripada mengobati. Mengobati belum tentu sembuh…” Simon Peter akan terus menerus secara konsisten melakukan edukasi ke masyarakat agar mau hidup sehat,  menjaga kebersihan dan menjaga lingkungan hidup tetap bersih. Ketika kita sehat tentu bisa kerja dengan baik dan apa yang kita harapkan tercapai.

Dicontohkannya Ring 1 Indonesia yang terletak di pusat kota Jakarta ini, masih banyak yang tidak kerja, mereka pengangguran. Belum lagi adanya rumah-rumah yang sudah tidak layak huni. Mengapa bisa terjadi hal seperti ini? Banyak lulusan SMA yang tidak punya skil untuk modal cari kerja. Diingatkan, agar tetap memanfaatkan Balai Latihan Kerja yang selama ini sudah ada. Selain perlu menaikkan anggaran untuk Balai Latihan Kerja, juga harus dipikirkan bagaimana caranya lokasi Balai Latihan Kerja terintegrasi dengan sara transportasi public terutama Trans Jakarta . “Hemat waktu, hemat ongkos dan akan memudahkan untuk datang ke lokasi Balai Latihan Kerja.”  Selain tentunya memberikan fasilitas tambahan ke Balai Latihan Kerja dan mengakomodasi keperluan masyarakat. Artinya, menaikkan Anggaran kepada Balai Latihan Kerja lebih maksimal.” Supaya dapat menambah berbagai macam Bidang Pendidikan  Misalnya : Menjahit, Service AC, Salon, Bengkel, Wira usaha,Komputer,Design Grapis, belajar bahasa asing dan lainnya. Untuk yang Lulusan SMA tetapi tidak punya kemampuan keuangan untuk melanjutkan Perguruan Tinggi, beliau akan memperjuangkan kenaikan anggaran untuk  Bea Siswa untuk warga Jakarta, sehingga semakin banyak warga yg punya kesempatan untuk  belajar di Perguruan Tinggi.

Melalui penguatan anggaran, maka tak perlu ada subsidi tambahan bagi. “Di Indonesia ini harusnya banyak akademisi duduk di parlemen. “Faktanya  mungkin bisa duduk di parlemen kalau tidak punya uang. Dengan kata lain,  meski memiliki kemampuan secara Intelektual, tapi tidak diimbangi dengan kemampuan keuangan, maka akan sulit untuk terpilih. 
 
Pengalaman blusukan selama ini di daerah Jakarta Pusat, Masyarakat lebih mengharapkan uang dari para caleg daripada mendegar program yang ditawarkan para caleg. Banyak akademisi yang berminat untuk duduk di parlemen tetapi mengurungkan diri karena anggaran terbatas. Itu sebabnya saya turun ke politik utk perbaiki kondisi yang ada. “Bayangkan,  tahun 2018 DKI Jakarta anggarannya sekitar 83,26 T dengan Jumlah Pendudk sekitar 10,4 jiwa,  Dibandingkan dengan Provins Banten Anggarannya sekitar RP 11,3 T dengan jumlah penduduk 12,44 jiwa, Jawa Barat anggaranya sekitar Rp 33,25 T dengan  jumlah penduduk 48,6 jiwa, jawa Tengah sekitar Rp 24,413 T, dengan  Penduduk 34,49 Jiwa dan Jawa Timur sekitar Rp 33,13 T dengan penduduk  39,500 jiwa artinya Pulau Jawa Mewakili  58 % penduduk Indonesia, dan DKI Jakarta sebagai Anggaran Terbesar dengan Jumlah Penduduk paling sedikit (diantara Provinsi P jawa),     sudah seharusnya  Jakarta menjadi Kota yang Bersih, Sehat,Tidak Kumuh, Modern  dan  setara dengan kota Metropolitan yang ada di Negara-negara Maju.

Ada banyak contoh yang diuraikan Simon Peters Manik, hal menariknya juga adalah beliau yang memerhati gereja. ‘Sebagai minoritas Kristen wajarlah kalau saya bersuara atas nama komunitas Kristen . Sebagai Warga Negara Indonesia Orang Kristen Juga telah melaksanakan kewajibannya, salah satunya adalah Bayar pajak, namun untuk mendapat Hak nya, jauh dari harapan, contoh sangat sederhana  Izin Rumah Ibadah.  Mendapatkan izin Hiburan malam, jauh lebih mudah daripada mendapat izin Rumah Ibadah, hal ini sangat miris dari segi adat ketimuran dan In toleransi yang sangat kental. Permasalahan ini merumakan pekerjaan Rumah Bangsa ini terutama yang duduk di parlemen.



Ketum GPdI Pdt. Dr. Johnny Weol MM. M.Th Sampaikan Pesan Pastoral


KAIROSPOS.COM, Jakarta - Ketua Umum Majelis Pusat Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Pdt. Dr. Johnny Weol MM. M.Th
memberikan sikap politiknya terkait tahun politik 2019. GPdI  yang telah tersebar di seluruh pelosok nusantara dengan jumlah sidang jemaat lebih dari 20.000 termasuk yang berada di Amerika, Australia, Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, Singapura, Malaysia, Perancis dan Belanda, mereka semua masih WNI  dalam  artian berkaitan dengan pemilu masih punya hak suara. Kami warga GPdI memberikan wawasan dan pandangan yang jelas dan obyektif untuk seluruh pemilih yang akan menggunakan hak suara pada hari pemungutan suara 17 april 2019.


Dalam hal ini memilih Presiden dan Wapres untuk masa kerja 5 tahun ke depan termasuk anggota DPR  tingkat pusat, propinsi dan daerah. Kebijakan MP GPdI setiap warga jemaat GPdI yang memiliki hak suara memilih anggota legislatif diberikan kebebasan sepenuhnya karena kadang dilapangan ada banyak hal yang bisa saja ditemukan misalnya berkaitan dengan keluarga, berkaitan dengan teman jadi mereka memilih sebebas bebasnya.

Dalam hal pemilihan Presiden dan Wapres memang tidak etis kalau kemudian MP menyebutkan langsung nama yang harus dipilih tetapi kepada seluruh warga jemaat GPdI yang memiliki hak suara kami menyarankan untuk Pertama memilih dari hati nurani. Kedua dengan mencermati kondisi yang berkembang di tengah masyarakat dan secara obyektif melihat realita di lapangan, sejuh ini bagaimana? dalam artian melihat bagaimana perkembangan perjalanan bangsa kita hingga saat ini. Sehingga kepada seluruh GPdI yang memiliki hak suara, kami pertama tama untuk tidak bersikap Golput karrna hal yang tidak baik. Kedua gunakan hak pilih dgn penilaian dan pencermatan yang obyektif. Adapu seruan yang disampaikan sebagai berikut:




Pertama,  Kepada seluruh warga jemaat GPdI diminta untyk membantu pemerintah, aparat keamanan (TNI/Polri) dalam hal menjaga ketertiban demi terciptanya keadaan yang kondusif. Kedua, Keopada seluruh warha jemaat gpdi diminta untuk tidak menyebarkan hoax yg berpotensi terciptanya keresahan di tengah masyarakat.  Ketiga, Dalam rangka pelaksanaan pemilu 2019, kepada seluruh warga jemaat GPdI untuk tidak bersikap Golput. Keempat, Kepada seluruh warga jemaat gpdi yg telah memiliki hak suara utk memilih pres dan wapres serta para wakil rakyat di semua tingkatan (pusat dan daerah) diminta untuk mendatangi TPS pada hari yang telah ditentukan yaitu 17 April 2019. 

Kelima, Kepada seluituh warga jemaat gpdi diminta untuk menggunakan hak suara pada hari tersebut, memilih presiden dan wakil presiden secara bertanggung jawab, menggunakan hati nurani, obyektif dengan memperhatikan realita di lapangan demi kelangsungan bangsa dan negara kita yg lebih baik, lebih maju dan lebih sejahtera ke depan. Keenam.    Kepada seluruh wrga jemaat GPdI diminta untuk senantiasa menaikkan doa syafaat bagi bangsa, negara RI, pemerintah serta aparat keamanan (TNI dan Polri) dans eluruh rakyat Indonesia. 




Wednesday, March 13, 2019

Bagaimana Gereja Kristen meninggalkan akar Ibraninya

KAIROSPOS.COM, Jakarta - Banyak orang Kristen menyangka bahwa Yeshua --nama asli Yesus dalam bahasa Ibrani seperti yang diberikan oleh malaikat mendirikan gereja Kristen seperti yang kita lihat sekarang ini.

Sebenarnya dalam masa pelayanan-Nya Yeshua tidak pernah melihat gereja seperti yang kita lihat, Yeshua masuk dan keluar sinagoge yaitu rumah ibadat Yahudi.

Yeshua mengabarkan Injil di sinagoge dengan membaca dan menjelaskan kitab Torah (=pengajaran) dan kitab nabi-nabi (Ibr neviim) dan bukan memakai Injil Sinoptik.

Murid-muridNya yang disebut rasul disebut penganut Jalan Tuhan, bukan Kristen dan mereka tidak pernah mengucapkan Duabelas Pengakuan Iman Rasuli (bentuk paling primitif muncul dalam dokumen Interrogatory of Hippolytus, 215 M), tidak merayakan yang disebut Jumat Agung atau juga Paskah pakai telur hias dan perayaan 25 Desember bersama pohon hiasnya.

Istilah Kristen (Yun christianoi) baru muncul ketika bangsa-bangsa non Yahudi (Ibrgoyim) menjadi percaya di Antiokia (KR 11:26). Itupun julukan oleh orang Yunani sendiri, yang tidak akrab dengan istilah Ibrani Mashiakh sehingga menerjemahkannya dengan istilah Yunani Christos, yang kemudian melahirkan sebutan christianoi yang artinya umat Kristus. Orang Yahudi tidak akan menjuluki diri mereka atau orang lain dengan bahasa Yunani.

Murid-murid Yeshua akan menamakan bangsa-bangsa yang percaya dengan sebutan yang sama seperti mereka, penganut Jalan atau Natzratim (KR 24:5).

Sebagai penganut Jalan Tuhan dalam agama Yahudi, murid-murid Yeshua percaya bahwa keselamatan kekal didapat melalui iman kepada Mesias Yeshua. Sementara itu, para rabbi dalam agama yang sama mempercayai bahwa seluruh bangsa Israel akan mendapat bagian di olam haba, dunia yang akan datang karena mereka Israel (Mishnah Sanhedrin 10:1).

Dibawah penjajahan Romawi yang agamawi, kepercayaan Yahudi mendapat status yang baik; sementara para atheis diancam hukuman mati karena dianggap melawan kaisar yang dianggap dewa itu. Para penganut Jalan Tuhan dipandang sebagai sekte agama Yahudi dan karena itu mereka juga mendapat status yang baik. Karena status tersebut didapat karena deal politik kelompok Farisi yang kuat, maka tidak heran bila ada tekanan yang kuat dari kelompok ini kepada orang percaya non Yahudi yang menjadi pengikut Jalan Tuhan untuk menjadi bagian masyarakat Yahudi yang lebih luas dengan cara menjadi Yahudi secara resmi (proselyte).

Latar ini perlu dipahami oleh setiap orang yang mempelajari surat-surat rasuli.

Paulus, seorang Farisi, tidak pernah menolak Torah; tetapi ia menolak keselamatan kekal dikesankan seolah-olah dapat diterima dengan menjadi Yahudi secara resmi (proselyte).

Pemberontakan Yahudi terhadap Romawi

Pada tahun 66 M terjadilah pemberontakan Yahudi yang pertama yang dilakukan oleh kaum Zeloti. Untuk memadamkan pemberontakan bersenjata ini, Roma mengirimkan Titus dan pasukannya ke Yerusalem yang berakhir dengan penghacuran Bait Suci II pada tahun 70 M. Pemimpin-pemimpin Yahudi dipenjarakan termasuk Paulus.

Pemberontakan Yahudi yang kedua dipimpin oleh Simon Bar Kokhba tahun 135 M. Pemberontakan ini mendapat dukungan kelompok agama, bahkan Rabbi Akiva yang sangat berpengaruh itu sampai menyerukan bahwa Bar Kokhba adalah Mesias yang dinantikan. Pemberontakan ini ditindas oleh kaisar Romawi Hadrian yang dengan kebencian yang amat sangat mendirikan patung dewa Yupiter di lokasi Bait Suci. Untuk mempermalukan orang Yahudi, ia mengganti nama Yudea menjadi Palestina, Palaestina adalah pengucapan Latin untuk Filistin, musuh Israel kuno ketika mereka memasuki Kanaan. Dari ini saja kita tahu tidak ada bangsa yang bernama Palestina, istilah ini adalah ciptaan Hadrian. Orang Palestina di timur tengah sekarang adalah orang keturunan Arab. 

Pemberontakan Bar Kokhba berakhir dengan jatuhnya benteng Masada, semua pahlawan Yahudi lebih memilih mati bunuh diri daripada ditawan oleh tentara Romawi. Akibat pemberontakan ini, Yerusalem menjadi kota tertutup bagi orang Yahudi. Murid-murid Yeshua penganut  Jalan Tuhan telah lebih dahulu meninggalkan Yerusalem, mereka se gan membela Bar Kokhba karena mereka hanya percaya kepada Mesias Yeshua saja. Karena mereka tidak membantu perjuangan kemerdekaan itu, oleh para rabbi, mereka diragukan kesetiaannya kepada bangsa Yahudi. Sementara itu kaisar Hadrian menunjukkan sikap toleran kepada orang Kristen yaitu penganut Jalan Tuhan yang bukan Yahudi. Faktorfaktor politik yang memberatkan orang Yahudi setelah pemberontakan yang gagal ini mendorong orang percaya bukan Yahudi mulai berpikir, apa perlunya lagi mengidentifikasi diri mereka sebagai sekte agama Yahudi.

Peran Romawi- diskriminasi melalui Pajak Yahudi.

Setelah pemberontakan pertama, kaisar Dominitian (81-96 M) melakukan penindasan rasial terhadap bangsa Yahudi dengan memberlakukan pajak Yahudi. (Fiscus Judaicus). Setiap orang dipaksa memikir ulang hubungannya dengan bangsa Yahudi. Keadaan ini mengakibatkan orang percaya bukan Yahudi mulai berjarak dengan masyarakat Yahudi. Isyu saat itu adalah siapa yang dimaksud dengan orang Yahudi? Nerva, pengganti Dominitian mendefinisikan Yahudi sebagai orang yang mengikuti tradisi nenek-moyangnya. Tradisi nenek moyang didefinisikan lagi sebagai mengikuti cara-cara Yahudi yang meliputi pemeliharaan hari Shabbat, sunat, aturan makan yang menghindari beberapa hewan (kosher) dan penyembahan kepada Tuhan Abraham, Ishak dan Yakub.

Dengan kebijakan diskriminatif ini Romawi telah memecahbelah persatuan jemaat Yahudi dan bukan Yahudi. Orang percaya Yahudi tetap beriman kepada Yeshua HaMashiakh sambil menjalankan tradisi dari nenek moyangnya. Di lain pihak, orang percaya bukan Yahudi mulai menjauhi masyarakat Yahudi. Mereka pernah ditolak oleh mayoritas masyarakat Yahudi yang menuntut tindakan proselyte. Mereka tidak memiliki akar budaya dalam Torah seperti orang Yahudi. Bagi mereka mengikuti tradisi Yahudi hanya membuat hidup mereka susah dan tertindas.

Perpisahan Gereja dari Sinagoge
Dampak kesulitan-kesulitan akibat kebijakan diskriminatif Roma terhadap orang Yahudi, menuntut orang percaya bukan Yahudi memikir ulang identitas diri mereka sebagai  kelompok lain bukan lagi sebagai bagian dari masyarakat Yahudi. Ditambah dengan jumlah orang percaya bukan Yahudi yang semakin banyak, jemaat Kristen ini mulai mengidentifikasi ulang diri mereka sebagai kelompok yang berbeda dari sinagoge dengan meremehkan Shabbat, mulai melawan Torah, memupuk rasa anti semitik dengan mengatakan Yahudi bertanggung jawab atas penyaliban Yeshua, melarang sunat, membuat upacara sendiri seperti Ekaristi yang berbeda dengan Seder Pesakh dan Baptisan Kristen. Dengan cara ini mereka dapat menghindari pajak Yahudi karena terbukti cara hidup mereka berbeda dengan orang Yahudi sementara mereka tetap dapat percaya kepada Yesus Kristus yang adalah Mesias orang Yahudi.

Pada abad 2 jarak yang telah ada antara gereja Kristen dan sinagoge menjadi semakin lebar setelah muncul pemimpin gereja Kristen yang tidak memahami akar Ibrani iman mereka, serta membuka diri terhadap sentimen anti semitik dan mengajarkan ajaran pengganti (replacement theology) yang mengatakan Gereja telah menggantikan Israel karena Israel telah ditolak Tuhan. Di antara mereka adalah Justin Martyr (100-165 M), Ignatius, Tertullian (160-220), Klemen dari Aleksandria (150-215), Origen (185-253), Eusebius (263-334) dan John Chrysostom (344-407), Uskup Antiokia yang dijuluki Si Mulut Emas.

Namun sampai demikian jauh, perpisahan gereja dan sinagoge tersebut masih terbatas pada wilayah-wilayah tertentu saja, belum menyeluruh. Perpisahan menyeluruh terjadi, sekali lagi, melalui campur tangan kaisar Romawi Konstantin Agung dengan membantu gereja menemukan identitas diri yang sama sekali berbeda dari sinagoge. Tahun 321 secara resmi ibadah Kristen dipindahkan dari Shabbat (Sabtu) ke hari Minggu, yaitu hari agama Mitras berbakti kepada Dewa Matahari. Melalui Konsili Nicea (325), Konstantin berhasil mendapat pengesahan Gereja Barat dan Timur untuk mengganti hari raya Pesakh dengan Easter yang berasal dari agama Mitras. Tahun 326 ia mendaulat tanggal 25 Desember dari perayaan Mitras Natalis Solis Invictus, menjadi hari kelahiran Yesus Kristus yang terus menggelinding sampai kini dan dipandang sebagai Injil oleh mayoritas Kristen. Bapa di surga melihat sudah terlalu banyak kreatifitas Konstantin dalam membuat sinkretisme dengan label Kristen sehingga tahun 327 ia dibiarkan pupus. Gerakan Reformasi abad 16 masih memakai kerangka warisan Konstantin, namun HaShem Tuhan yang hidup, tanpa seorang tokoh sentral, di abad 21 ini HaShem sedang memulihkan kemurnian pengajaran-Nya melalui Gerakan Mesianik di seluruh dunia.

(Penulis: Gmb Benyamin Obadyah, Pimpinan Gereja Kehilat Mesianik Indonesia.
Shoresh Messianic Fellowship, Jakarta).

SEMINAR HUKUM: GENERASI MILENIAL, BERITA HOAX DAN KETERTIBAN UMUM

Generasi Milenial, yang juga punya nama lain Generasi Y, adalah kelompok manusia yang lahir di atas tahun 1980-an hingga 1997. Mereka disebut milenial karena satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua sejak teori generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923. Generasi milenial merupakan generasi yang paling dekat dengan teknologi informasi dan perkembangan zaman yang sangat cepat, khususnya dengan adanya media sosial dan internet yang makin memudahkan akses terhadap informasi. Namun demikian ternyata banyak informasi yang beredar di berbabagi media merupakan hoax. Kata hoax muncul pada akhir abad ke-18 yang diduga dari kata “hocus” yang merupakan kependekan dari hoces corpus (istilah yang digunakan pesulap atau penyihir untuk menyatakan bahwa semua yang dilakukannya benar atau nyata) yang kemudian diartikan dengan “untuk menipu”.  Hoax dalam Oxford English Dictionary didefiniskan sebagai “malicious deception” atau “kebohongan yang dibuat dengan tujuan jahat”. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia “hoaks” diartikan sebagai “berita bohong”. 

Atas dasar itu maka Seksi Keadilan dan Perdamaian Paroki St. Matius Bintaro bekerjasama dengan Seksi HAAK, Seksi Kepemudaan, dan Seksi Komunikasi Sosial menyelenggarakan seminar hukum dengan tema “Generasi Milenial, Berita Hoax dan Ketertiban Umum”. Seminar dilakukan di aula gereja St. Matius Bintaro pada Sabtu, 23 Februari 2019 dengan mengundang 2 orang narasumber yang sangat berpengalaman dalam gerakan melawan hoax, yaitu KBP Dra. Sri Suari dari Lemdiklat Polri dan Alois Wisnuhardana dari Kantor Staf Kepresidenan RI.
Seminar dihadiri oleh 206 orang peserta dari berbagai institusi, organisasi dan komunitas, yaitu:
1. Gereja Protestan Indonesia Barat Sejahtera
2. Gereja Kristen Jawa Kanaan
3. FORMAG (Forum Antar Umat Beragama)
4. WKRI Paroki St. Matius Penginjil
5. CV Karya Guna Gas
6. Koperasi Prima Bina Wira
7. Rumah Retret Canossa
8. SMA Ricci II
9. SMA Tunas Indonesia
10. Serikat Xaverian
11. Banser & GP Ansor Tangsel
12. OMK Paroki St. Matius dan St. Nikodemus
Selain itu juga didukung oleh Wali Kota Tangerang Selatan Ibu Airin Rachmi Diany, SH., MH., Mkn., yang diwakili oleh Drg. Dahliana.

Pemaparan materi dari narasumber pertama Alois Wisnuhardana memberikan contoh-contoh dan ciri-ciri berita hoax yang beredar di media seperti berita hoax TKA di Morowali Sulawesi Tengah. Berita hoax tersebut secara umum memiliki ciri-ciri:
a. Mereproduksi video/gambar dengan resolusi/kualitas rendah
b. Membuat narasi sesuai framing yang diinginkan
c. Mengulang dan menggunakan isu yang mudah menyentuh emosi
d. Mendistribusikan dengan teknik tertentu yang mudah viral
Berita-berita hoax dengan ciri-ciri tersebut dibuat dengan mengkombinasikan bentuk visual dan/atau audio dan/atau kinetik sehingga dapat membentuk suatu persepsi yang sesuai dengan maksud dan tujuan pembuatan berita hoax. Penyebaran berita hoax menjadi sangat mudah karena adanya media sosial seperti facebook, twitter, instagram, dsb yang ternyata meninggalkan jejak digital bagi setiap pemilik akun media sosial. Namun ternyata media sosial itu hanyalah awal dari perkembangan teknologi yang perlu kita sikapi dengan bijak.
Sementara itu narasumber kedua KBP Dra. Sri Suari melalui materi pemaparan yang berjudul “Jari Pelindung Negeri”, menyampaikan bahwa ternyata kita sekarang ini berada dalam suatu kondisi perang. Isu atau berita-berita hoax merupakan bentuk perang asimetris yang jauh berbeda dengan perang konvensional. Perang asimetris yang dimaksud adalah bentuk peperangan dengan cara menghembuskan isu (berita hoax) tertentu dengan tema/agenda untuk menggerakkan massa serta menimbulkan konflik terbuka, sehingga pada akhirnya melahirkan skema untuk melemahkan kendali sistem ekonomi dan kontrol sumber daya negara dan mengubah sistem negara atau melemahkan ideologi serta pola pikir masyarakat. Seperti mengutip pendapat Napoleon Bonaparte, “empat surat kabar lebih berbahaya daripada seribu senapan atau seribu bayonet”. Artinya media sosial menjadi senjata yang ampuh dan mutakhir dalam peperangan asimetris.

Media sosial saat ini banyak diisi dengan pemberitaan hoax yang didasari pada dua bentuk pembenaran, yaitu
a. Motivated Reasoning berupa suatu penalaran dikemas sedemikian rupa sehingga dirasa dan dipahami sebagai sesuatu yang sangat logis dan rasional namun sebenarnya itu semua sengaja dirancang sebagai upaya pembenaran atas suatu ide yang telah diyakini sebelumnya; dan
b. Confirmation Bias yaitu jika keyakinan akan sesuatu itu sudah terbentuk, maka dengan serta merta meyakini hal yang membenarkan keyakinan awal dan mengabaikan segala argumentasi yang berlawanan dengan keyakinan itu.

Secara hukum terdapat peraturan perundang-undangan yang dapat diterapkan dalam penyebaran berita hoax, yaitu UU No. 19 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik khususnya Pasal 28  dengan ancaman pidana penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal 1 milyar rupiah. Namun demikian melawan hoax tidak dapat dilakukan melalui penegakan hukum saja, perlu adanya partisipasi dari masyarakat untuk meminimalisir dan memitigasi penyebaran berita hoax.

Kedua narasumber secara tegas menyerukan gerakan lawan hoax, yaitu dengan beberapa upaya sbb:
1. Meningkatkan literasi media dengan melakukan langkah i) membaca informasi secara utuh, ii) menanyakan kepada penyebar informasi mengenai asal informasi, iii) mengecek sumber informasi apakah dari media yang kredibel, dan iv) memastikan kebenaran berita melalui search engine apakah ada informasi yang sama.
2. Menggunakan pola pikir investigatif dan logika terbalik, yaitu dengan memunculkan keingintahuan atas detil informasi dan kroscek kebenaran informasi.
3. Meng-counter berita hoax dengan membuat dan menyebarkan konten-konten positif.

Media sosial saat ini menjadi salah satu sumber komunikasi dan media pemberitaan, namun jika tidak disikapi dengan bijak maka akan menjadi sarana penyebaran hoax yang masif. Jarimu adalah harimau mu, bijak menggunakan media sosial merupakan langkah awal menangkal hoax.

Penulis (bertindak sebagai moderator dalam seminar hukum):
Leonardus Agatha P., S.H., M.H.
Seksi Keadilan & Perdamaian Paroki St. Matius
Subseksi Advokasi Hukum & HAM
www.ayeey.com www.resepkuekeringku.com www.desainrumahnya.com www.yayasanbabysitterku.com www.luvne.com www.cicicookies.com www.tipscantiknya.com www.mbepp.com www.kumpulanrumusnya.com www.trikcantik.net