KEPEMIMPINAN KRISTEN DIMASA NEW NORMAL DIBAHAS STT IKAT

KAIROSPOS.COM, Jakarta - Pandemi corana menjungkirbalikan kebiasaan yang ada selama ini, bagaima tidak orang yang biasanya berkumpul, dan kebiasaan-kebiasaan yang lain harus berubah, lantaran virus covid19 mengingat penularanya yang begitu masiv dengan cara bersentuhan atau berdekatan. 
Menyikapi kondisi pandemic corona ini, barang tentu dibutuhkan cara atau kebiasaan baru atau new normal. Terutama bagaimana kepemimpinan itu diuji dalam kondisi yang serba berubah ini. Dalam rangka menghadapi kondisi new normal ini Sekolah Tinggi Teologi (STT) IKAT, Kamis, 11 Juni 2020 melalui fasilitas virtual video conference, ZOOM, menggelar webinar dengan tema Kepemimpinan Kristen Normal Baru. 
Dalam diskusi yang menghadirkan para narasumber antaranya Pdt. Jimmy Lumintang selaku Rektor dari STT IKAT, Tety Paruntu yang diwakilkan Staf Ahlinya selaku pemimpin daerah, Disiplin F. Manao pemimpin di lembaga hukum atau Hakim Tinggi PTUN RI, Sallyana Sorongan Pimpinan Yayasan Kenker Anak Indonesia dan Jan Calvin Pindo Pimpinan media dalam hal ini RPK FM 96,3 FM. 

Pdt. Dr. Jimmy Lumintang yang mendapatkan kesempatan pertama  menyampaikan bahwa, Pemimpin di normalitas yang baru nanti sebaiknya memiliki sikap (afektif) yang Beriman, Berkomitmen, Berdedikasi dan Loyal.
Selain itu juga, Pdt. Jimmy juga menyampaikan bahwa, pemimpin di era normalitas yang baru nanti memiliki karakter dan personal skill yang disebut Pemimpin SIKIP; Sensitif, Inisiatifitas, Kreativitas, Inovatifitas, Produktifitas.
Ditambahkan beliau dalam webinar yang dihadiri sekitar 280 peserta tersebut, bahwa dalam normal yang baru, pemimpin yang memegang prinsip SIKIP tersebut sangat cocok. “Tapi harus sensitif, peka pada situasi dan kondisi, tapi apabila tidak peka maka akan tergilas dalam tantangan, mampu membaca fenomena atau keadaan.” Pdt. Jimmy Lumintang menegaskan.
“Pemimpin yang akan masuk new normal harus memiliki kemampuan personal skill (SIKIP, -red) dan siap kerja in role, patuh dan membaca job desk, SOP, mampu juga melakukan karya2.” demikian penyampaian Pendeta yang juga melayani di Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) Jemaat Daniel, Jakarta.
Sementara paparannya Tety Paruntu Bupati minsel yang diwakili Staf Ahlinya mengatakan bahwa covid19 ini tak akan hilang dan sifatnyapun terjadui secara global, dengan demikian manasia harus hidup berdampingan dengan covid19 ini. Persoalannya ke depan bagaimana kita menerapkan protokol kesehatan tersebut dengan budaya baru dengan cara mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. 
Dengan demikian di ranah peemrintahan Minsel sendiri tukasnya dibutuhkan pendisplinan protokol kesehatan dalam hal ini stagas Minsel dalam hal ini diketua kepala daerah Minsel bekerjasama dengan semua stakeholder baik TNI, Polri, Satpol PP.
Setelah dilakukan pendisiiplinan, maka pengawasan itu juga harus dilakukan kepada masyarakat agar mengikuti perubahan yang ada.
“Saya bersyukur ternyata masyarakat Minsel cepat menyesuaikan  dan sudah menjadi kebiasaan mereka menggunakan masker, cuci tangan dan protokol kesehatan lainnya”, ujarnya bangga.

Kemudian bicara tantangan dengan adanya pandemic yang memaksa ada perubahan yang cepat ini seperti sistem komunikasi, kemudian perilaku budaya masyarakat. Dengan adanya perubahan tersebut membutuhkan sumber daya yang handal di tengah-tengah sumber daya yang ada. 
Namun penting bagaimana pemimpin dituntut bagaimana harus mengedepan persuasive menyadari situasi dan kondisi yang dipimpinnya. 
Sementara Sallyana Sorongan ketua Yayasan Kanker Anak Indonesia yang sudah membantu 1000-an anak ini, menjadi pemimpin disebuah yayasan yang memiliki slogan mewujudkan senyum anak sehat Indonesia, pemimpin adalah panggilan dan tentu harus memiliki hikmat Tuhan terutama dalam mengurus anak-anak yang terkena kanker. 
Beruntung dengan program BPJS, menurut Sallyana sangat membantu dalam menangani anak yang terkena kanker, sekalipun demikian masih ada banyak yang perlu dibantu seperti trasportasi, penginapan dan lain sebagainya. 

Untuk itu dalam menggalang dana di saat pandemic ini masih bisa dilakukan dengan cara konser di rumah dan sebagainya. Prinsipnya pemimpin memang harus kuat dan selalu kreatif.

Jan Calvin Pindo sebagai pembicara pamungkas bahwa radio adalah alat komunikasi yang sangat efektif di tengah pandemic ini, 
Calvin mecontohkan RPK yang melakukan siaran sepanjang 14 jam nonstop memberikan informasi yang selektif dan bertanggungjawab. 
Kemudian bicara kepemimpinan Kristen harus komunikatif dan harus paham masalah, harus tenang dan bersedia mencari solusi dan memberi inspirasi. Terpenting seorang pemimpin harus mampu menggunakan kalImat yang jelas dan lugas sehingga tidak menimbulkan multitafsir, apalagi ditengah pandemic seperti ini. 

Pemimpin harus mampu menyiapkan antisipasi dengan mampu membentuk tim serta mempunyai public relation serta mampu melibatkan semua pemangku kepentingan. 

Sarannya kepada semua pihak dalam mengkomunikasikan segala sesuatu gunakan media. Karena dengan media pesan-pesan itu bisa disampiakan. 
Webinar yang diselenggarakan STT IKAT sore hari ini memang pantas diacungi jempol selain diikuti 260-an partisipan jtak kalah serunya dengan kehadiran para narasumber yang merupakan pemangku kepentuingan juga menghadirkan penanggap dari pembimas Krsiten Banten Junit Gultom

Related Posts:

0 Response to "KEPEMIMPINAN KRISTEN DIMASA NEW NORMAL DIBAHAS STT IKAT"

Post a Comment